KOPI AHENG: Kopi Sejak Masa Laksamana Hengkenau


Laksamana Hengkenau ialah seorang panglima perang Kerajaan Siau abad 16. Dalam tuturan tua-tua Kampung, konon pria perkasa kelahiran Timeno Kiawang tahun 1590 itu mempunyai kebiasaan minum kopi hasil racikan ibunya. Kopi dari Gunung Tamata diolah ibunya dengan cara sederhana. Cukup dikeringkan di bawah sinar matahari lalu disangrai dengan belanga tanah bersamaan dengan biji pala. Racikan itu cukup bagi Hengkenau untuk membuat dirinya bisa tidur lelap dan bangun dengan stamina prima. 

Untuk menghasilkan kondisi tubuh yang menawan dan tampak selalu energik, tetapi tetap harum bauh tubuhnya, Hengkenau mencecap Kopi buatan ibunya yang diracik dengan sedikit campuran fulli (mace) dari biji pala lenge (pala masak yang dianggap sebagai pala terbaik). Tidak heran, pada setiap pertempuran melawan tandingnya, Hengkenau tidak pernah menorehkan kekalahan. Ramuan Kopi racikan Ibu Hengkenau ini sangat berperan dalam membentuk kepribadiannya yang kokoh dan disegani lawan. 

Kisah kepahlwanan Hengkenau diawali sejak dirinya bergabung dalam pasukan khusus kerajaan dan menjadi aktor utama dalam mengatasi perselisihan dua tokoh sentral di wilayah kerajaan, yaitu Mahonis (Jogugu Ulu) dengan D'Arras (Jogugu Ondong), sehingga Datu Winsulangi mengangkat dirinya menjadi Kontraktor Proyek Pembangunan Armada Angkatan Laut pada tahun 1612. Proyek tersebut tuntas dilaksanakan. Hengkenau menciptakan Jubah Sakti dari Benang Sakede yang tak bisa ditembusi parang bara dan tombak. 

Hengkenau diminta jasanya untuk memberantas tindakan teror Makaampo dan berhasil mengamankan Tampungang Lawo (Sangihe). Setelah itu dirinya beradu kesaktian dengan seorang pahlawan Dagho, Ansuang Killa. Pertempuran keduanya berimbang dan berakhir dengan genjatan senjata karena tidak ada pihak yang kalah.

Dirinya bersua dengan gadis pemain musik Olri di Mahangetang dan menjadi partner hidup sekaligus mitra berperang melawan teroris Onding yang meneror kehidupan rakyat Makalehi. Dengan senandung Sasambo dan alunan musik Olri isterinya, Hengkenau berhasil mengamankan rakyat Makalehi dari teror Onding.

Pada tahun 1621 Hengkenau berhasil mengamankan Kabaruan dari kemelut dan gejolak perang saudara di kawasan Porodisa sehingga Kabaruan menjadi daerah kekuasaan Siau. Sikap patriotismenya terus bertumbuh-kembang, membela kaum lemah dan mengejar para Perompak Mangindano ke selatan yang hendak meneror kehidupan warga Minahasa yang kaya raya dengan beras. Usaha perompak merampas beras Minahasa dapat dihalau oleh Sekutu Pasukan Para Walak Minahasa dan Pasukan Kora-Kora Hengkenau pada Pertempuran Kasuang tahun 1640. Itulah ekspedisi perdana seorang pahlawan yang berjuluk Bawata Nusa ini.

Hengkenau, atas perintah Raja Batahi melakukan ekspedisi kedua ke selatan untuk tujuan mengejar dan menaklukan semua bentuk kejahatan. Beberapa kerajaan lokal yang berkarakter keras dan menyengsarakan rakyatnya sendiri turut diberi pelajaran. Semisal Raja Makaaloh di Talawaan berhasil ditaklukan pada tahun 1642 dan Angkoka, Raja Singkil yang berhasil ditundukkan pada tahun berikutnya.

Armada Angkatan Perang Kora-Kora, Bininta dan Konteng dibawah komando Hengkenau tiba di Leok Buol pada tahun 1645, berhasil menghalau Angkatan Laut Kerajaan Gowa yang hendak menaklukan kawasan Utara Pulau Sulawesi (Sulawesi Utara). Angkatan Laut Kerajaan Gowa hancur lebur di pantai laut Leok Buol. Kerajaan Gowa kemudian meminta kerjasama Pasukan Hengkenau untuk berperang melawan Kerajaan Bone pimpinan Arung Palakka yang dibawa pengaruh Belanda. Arung Palakka melarikan diri ke Batavia seraya meminta bantuan Belanda sebelum meletusnya Perang Makasar antara Gowa dan Bone pada tahun 1666.

Pada tahun yang sama (1666), Pasukan Kora-Kora pimpinan Hengkenau sudah kembali ke pangkalan Angkatan Laut di Kedatuan Siau karena mendapat kabar bahwa penghuni Benteng Kastila (Tentara Portugis) sedang melakukan tindakan teror pada penduduk Siau. Ancaman Dalam Negeri ini lantas diberangus oleh Laskar Hengkenau sampai penduduk kembali hidup merdeka.

Translate from Google: 

Admiral Hengkenau is a warlord kingdom of Siau In the 16th century the village elders speech, supposedly mighty man Timeno Kiawang birth in 1590 was in the habit of drinking coffee concoction of his mother. Mount Tamata processed coffee from her mother in a simple way. Quite dried in the sun and then roasted in clay pot along with nutmeg. It was enough for Hengkenau concoction to make him able to sleep and wake up with stamina. 
 
To produce the body is very charming and seemed always energetic, but still fragrant bauh body, Hengkenau sipped her coffee brew blended with a little mix Fulli (mace) of nutmeg lenge (nutmeg cook who is considered as the best nutmeg). Not surprisingly, in every battle against tandingnya, Hengkenau never incised defeat. Coffee herb concoction Hengkenau mother was very instrumental in shaping his personality is strong and respected his enemy.
 
Hengkenau epic tale starts since he joined the special forces of the kingdom and become the main actors in resolving disputes two central figures in the kingdom, namely Mahonis (Jogugu Ulu) with D'Arras (Jogugu Ondong), so Datu Winsulangi himself as a Fleet Development Project Contractors Navy in 1612. the project is fully implemented. Hengkenau create cloak Way of Yarn Sakede that can not be penetrated by machetes and spears coals.
 
Hengkenau requested his services to combat acts of terror and managed to secure Tampungang Makaampo Lawo (Sangihe). After that he collided with a hero Dagho magic, Ansuang Killa. Battle of both impartial and ended with a truce because there are no losers.
 
He met with the girl in Mahangetang Olri music players and become life partner and partner onding fight against terrorists who terrorize the people's lives Makalehi. Hengkenau with Sasambo chanting and music Olri wife, managed to secure the people's Makalehi of terror Onding. 

In 1621 Hengkenau managed to secure Kabaruan from the chaos and turmoil of civil war in the region Porodisa so Kabaruan into territory Siau. The attitude of patriotism continues to scale up, to defend the weak and the pursuit of the pirates Mangindano to the south who want to terrorize citizens' lives Minahasa rich with rice. Enterprises pirates seize Minahasa rice can be driven by the Allied Forces and the Forces of the Minahasa Walak-Kora Kora Hengkenau at the Battle Kasuang 1640. That first expedition was a hero who was nicknamed Bawata Nusa this. 
 
Hengkenau, on the orders of King Batahi conduct a second expedition to the south for the purpose of pursuing and conquering all forms of crime. Some local kingdoms which character hard and miserable people themselves participated were given a lesson. Such King Makaaloh in Talawaan conquered in 1642 and Angkoka, King Singkil successfully subdued in the next year.
 
Fleet-Kora Kora Armed Forces, under the command of Bininta and Konteng Hengkenau Leok arrived in Buol in 1645, managed to block the Royal Navy Gowa who want to conquer the North Sulawesi region (North Sulawesi). Gowa Royal Navy destroyed at sea beach Leok Buol. Gowa then requested the cooperation Hengkenau forces to fight against the royal Bone White Palakka leadership that brought the Dutch influence. Whitewater Palakka fled to Batavia while requesting help the Netherlands before the outbreak of war between Gowa Makassar and Bone in 1666.
 
In the same year (1666), Kora Kora-led forces Hengkenau has returned to a naval base in kedatuan Siau since learned that the inhabitants of Fort Kastila (The Portuguese) were committing acts of terror on the population Siau. The threat of the Interior was then suppressed by the Army until the resident returned Hengkenau independent life.
 
 
 
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOPI AHENG: Kopi Leluhur Orang Siau

KOPI DARI SURGA SERUPUTAN BIDADARI